Rasa rinduku akan kebahagiaan seperti perasaan rindu yang
dirasakan bulan terhadap pagi, rindu yang dirasakan matahari terhadap malam,
rindu yang dirasakan semut terhadap langit, rindu yang dirasakan ikan terhadap
tanah, rindu yang dirasakan barat terhadap timur, rindu yang dirasakan kutub
utara terhadap kehangatan dan rindu yang dirasakan kemarau terhadap hujan.
Kepedihan yang aku rasakan selama ini menjadi satu dengan
diriku. Melebur dan menyatu dengan raga. Menetap tanpa tau kapan ia akan pergi.
Tak pernah enyah walau berkali-kali kebahagian berusaha mencoba mengusirnya.
Kepedihan itu adalah sahabat yang tak lagi aku risaukan. Dia
adalah canda tersendiri dalam hidupku. Dia adalah kasih yang tak pernah
dirasakan siapapun kecuali aku. Dia adalah tawa yang selalu kusembunyikan jauh
di dalam diriku, sangat jauh, bahkan orang lain tak sanggup melihatnya.
Namaku Roni aldiani. Aku akan menceritakan kepada kalian
semua, sedikit tentang kisah hidupku yang moga bisa kalian ambil pelajaran dan
hikmah bahwa sabar itu adalah teman hidup hingga akhir hayat.
Kisah hidupku ini, awalnya biasa-biasa saja. Ketika aku kecil,
aku tumbuh seperti anak kecil lain, selalu ingin bermain dan bergembira.
Kehidupan yang sangat indah, penuh dengan kasih sayang orangtuaku. Namun,
kebahagiaan itu perlahan memudar. Semuanya berawal ketika ulangtahunku yang
ke-6 tahun. Saat itu ibu dan ayahku membuat sebuah pesta meriah khusus untukku
seorang. Ada balon-balon, hiasan-hiasan lucu, dan kue ultah yang sangat indah.
Aku amat senang akan semua itu.
Singkat cerita, saat selesai memanjatkan doa dan meniup
lilin angka 6 yang ditaruh tepat di atas kue ulangtahun, tiba-tiba sesuatu
terjadi. Semuanya diluar ekspetasiku. Ayah dan ibu tiba-tiba bertengkar. Mereka
berteriak-teriak tanpa mempedulikanku dan tamu undangan yang sedang duduk
berjejer rapi. Saat itu aku sadar, bahwa Ayah dan Ibuku sedang bertengkar.
Kebahagiaanku hari itu, panjatan doa singkat yang berisi impianku agar
keluargaku bahagia selamanya seakan tak berarti dan tak dipedulikan Tuhan. Aku
bahkan tak paham, mengapa Tuhan begitu teganya merancang takdir ini untukku,
dan juga bertepatan pada saat-saat bahagia seperti ini? Sejak saat itu, aku
mulai berfikir bahwa ketidakadilan Tuhan memang benar-benar ada..!!!
Waktu terus berputar, terus dan terus berganti siang dan
malam. Aku mulai tumbuh menjadi Apink remaja yang sudah bisa menyelami takdir
kehidupanku. Semuanya berlalu begitu saja. Pertengkaran-pertengkaran itu,
teriakan-teriakan itu, suara jerit tangis ibu, aku benar-benar bisa
memahaminya. Awalnya, sempat terbersit rasa ingin mendamaikan keadaan
orangtuaku. Namun, keinginan itu seakan pudar, dimakan oleh waktu.
Keterbiasaanku kali ini, bisa membantu berjalannya kisahku dengan normal. Aku
menjadi kadang mengeluh, karena rasa tidak peduli ini. Namun, ternyata Tuhan
ingin mencoba memelukku lagi. Kali ini, pelukan Tuhan juga belum dapat aku
rasakan sepenuhnya. Dia merenggut satu karunia.
Saat itu, aku sedang bersiap-siap ke sekolah. Ketika aku
ingin membersihkan diri, semuanya terasa gelap. Penglihatanku tak menentu. Aku
berusaha untuk menyadarkan diri, namun sia-sia. Aku hanya bisa berpegangan pada
dinding kamar mandi. Berselang beberapa menit kemudian, penglihatanku kembali
normal, perlahan kulepaskan peganganku. Aku terkejut..!!! lantai putih kamar
mandi itu, sebagian telah berupa menjadi merah. Aku tau apa itu. Aku berusaha
untuk menyadarkan diriku berulang-ulang, harapku itu hanya ilusi. Namun, itu
benar. Darah segar telah memenuhi sebagian lantai kamar mandi. Dan itu berasal
dari hidungku. Aku MIMISAN..!!!!
Beberapa menit awal melihat kejadian itu aku sempat syok.
Aku mencoba menenangkan diri dan melupakan kejadian menakutkan itu. Semenjak
itu terjadi, hal-hal aneh mulai berdatangan. Aku sering merasakan pusing jika
terlalu lelah, dan mimisan itu berulangkali datang lagi. Ini sudah tak wajar
lagi. Sempat aku tak bisa ikut tryout karena masuk rumah sakit. Aku tak pernah
membayangkan, aku menderita penyakit yang terlalu berbahaya. “Ini mungkin
karena kecapeaan saja” Pikirku. Tapi hasil pemeriksaan dokter menentang pikirku
itu. Surat pemeriksaan itu, sempat mengguncang perasaanku. Aku ternyata
menderita penyakit asma akut. Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku tak
memberitahu perihal hasil pemeriksaan itu kepada ibu dan ayahku. Jika ditanya
aku selalu menjawab “Tak apa, ini tak separah yang kalian bayangkan”. Namun,
semua yang kusembunyikan pasti perlahan akan terbongkar. Sekarang orangtuaku
sudah mengetahui penyakit yang kuderita.
Aku sempat berfikir, mengapa Tuhan tak menunjukkan rasa
sayangnya kepadaku, seperti ia memeluk remaja-remaja lain yang di luar sana.
Aku sempat berfikir, ini tak terlalu adil bagiku. Kesalahan fatal apa yang
telah aku lakukan. Apakah Tuhan tak menyayangiku lagi?. Jika benar, mengapa dia
memberiku hidup?.
Ternyata pikiranku terlalu egois. Aku ingin semuanya
sempurna. Berjalan baik dan teratur sesuai skemaku sendiri. Aku terlampau lupa,
bahwa rencana Tuhan berada jauh di atas rencanaku. Aku lupa, bahwa cara Tuhan
memeluk orang-orang sepertiku berbeda dengan yang lain. Tuhan memberitahuku
dengan halus dan lembut. Dia membuatku tersadar, tanpa melukaiku sedikitpun.
Akhirnya aku tahu. Aku tahu karena, cinta tulus sahabatku selama ini. Aku
sadar, karna kasih mereka yang tak ada habisnya. Kasih yang entah bagaimana
bisa kubalas, dengan apa kubalas, kapan aku akan membalas dan berapa aku akan
membalasnya.
Terima Kasih Tuhanku. Anugerah yang engkau berikan saat ini,
tak dapat aku bandingkan dengan anugrah yang engkau ambil kemarin dariku.
Terima kasih Allah. Kini pelukanmu, mulai dapat aku rasakan
kehangatannya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar